Tentang Weaning

Entah kenapa kalau cerita tentang hal yang personal seperti ini, seringkali mandek. Rasanya emosional sekali. Baru menulis sebentar, eh nangis, lanjut menulis lagi, lalu nangis lagi. Begitu saja berulang kali, sampai akhirnya tulisannya hanya tersimpan di draft.

Saya memulai weaning Janis pertengahan bulan Oktober tahun lalu. Saat itu Janis berusia 2 tahun 6 bulan. Saya tidak langsung memutuskan untuk weaning, melainkan menunggu momen yang tepat, termasuk menunggu kesiapan Janis.

Beberapa kali bertemu orang dan keluarga besar, sempat disinggung juga, “Lho sudah dua tahun kok masih ASI?” Alhamdulillah, untung saya keras kepala. Seingat saya, saat itu saya hanya tersenyum, walaupun dalam hati, “Dude, that’s rude!” Padahal ada banyak artikel di luar sana yang menyebutkan manfaat breastfeeding untuk toddler.

Satu minggu sebelum memulai weaning, saya hanya yakin saja Janis bisa. Saya lihat juga dari pola menyusu yang tidak sesering dulu, hanya ketika mau tidur saja. Ketika kami sedang pergi atau main ke luar, Janis juga tidak pernah minta. Bahkan ketika sudah waktunya tidur siang, ia pun bisa langsung tidur begitu saja, tanpa harus menyusu.

Saya dan suami pun tak lupa berulangkali menyebutkan ‘mantra’ ke Janis, “Mbak Janis mulai sekarang belajar minum susu ya, karena ‘neyney’ is for baby…” ‘Neyney’ itu istilahnya Janis untuk minum ASI, hihihi.

Petualangan pun di mulai.

Hari pertama weaning, rasanya luar biasa. Terutama ketika malam hari. Pertama, karena Janis sulit tidur. Kedua, tengah malam atau dini hari, Janis selalu terbangun. Menangis, tendang sana-sini. Fase ini berlangsung selama seminggu. Bagi saya dan suami, masa-masa ini mengingatkan kami ketika Janis masih menjadi newborn baby, yang terbangun terus setiap beberapa jam. (more…)