Tahun Ketiga

Dear Janistra,

Nak, maaf ya, kami seringkali kewalahan dengan energi nak Janis yang sungguh besar. Naik-turun sofa, bahkan sandarannya yang tak seberapa tinggi pun ikut dipanjat. Atau berulang kali meluncur dari slide, kadang juga ‘mendaki’ dari arah sebaliknya. Atau lompat-lompat dan berjoget sembari mendengarkan lagu. Kami pun membuatkan playlist khusus untuk nak Janis, semuanya lagu anak-anak, dan tentunya ada beberapa lagu The Beatles, dan lagu favorit untuk kita berjoget bersama, Nak: The Bare Necessities.

Nak, kami senang sekali ketika Janis makin senang membaca buku. Bahkan ketika berkunjung ke perpustakaan, Janis bisa duduk anteng, sampai kami bisa membacakan lima buku. Walaupun setelah itu jalan ke sana-sini, sembari menyapa siapapun yang ada di sekitar situ. Tema favoritnya Janis masih sama: dinosaurus.

Kami juga senang, Nak, ketika kita menggambar bersama di notebook dengan pensil warna dan krayon, sambil bermain tebak gambar. Yang membuat Mama kagum, Janis masih bisa menebak gambar buatan Mama yang amburadul itu, Nak, hihihi. Berhubung Mama suka kewalahan, Janis juga seringkali minta digambarkan sesuatu oleh Yayah, yang sudah pasti hasilnya bagus ya, Nak!

Mungkin Janis belum tertarik untuk belajar tracing garis, gambar, angka ataupun huruf. Tak apa, Nak, kami tidak pernah memaksa. Tidak pernah ada target supaya Janis bisa ini-itu. Kami percaya semua ada waktunya. Fokus kami hanya bermain, bermain dan bermain.

Nak, mohon maaf ya, kami jarang sekali membelikan mainan atau barang. Nikmati dulu apa yang sudah ada ya, Nak. Kami ingin Janis bisa berkreasi dengan apa yang sudah Janis miliki, sambil pelan-pelan belajar bersyukur..

Nak, terima kasih ya, sudah membantu kami menaruh pakaian ke dalam lemari, walau belum sempurna. Segala niat nak Janis untuk membantu amat sangat kami hargai. Begitu pula ketika Mama hendak memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci, pasti Janis selalu tanya, “Can I help you, Mom?” Kadang kami sampai terharu sendiri, entah darimana Janis bisa belajar ini semua, Nak…

Nak, sebelumnya kami tidak pernah tahu seberapa peka perasaan nak Janis, sampai suatu ketika Mama sedih sampai menangis, Janis segera berlari mengambilkan Mama selembar tisu, dan menepuk-nepuk bahu Mama, bahkan memeluk Mama, seraya berkata, “It’s okay, Mama… It’s okay.” Sesekali kami pernah melihat mata janis ikut berkaca-kaca. Ah, Janis…

Nak, semoga Janis bisa berkelana kesana-kemari, menjelajahi bumi Allah yang luas ini. Hingga suatu saat nanti, Janis bisa bercerita tentang petualangan apa saja yang sudah Janis alami, ada hal menarik apa saja yang sudah Janis lewati. Kelak Janis bisa mengambil manfaat yang baik dari semua perjalanan tadi dan menyebarkan segala yang baik di dunia ini.

Doa kami selalu sama, Nak, semoga Janis selalu menjadi anak yang sehat, selalu bersyukur, berakhlak baik, selalu bahagia, memiliki hati yang besar, dan hidupmu dipenuhi dengan petualangan yang indah ya. Semoga Allah SWT juga berkenan ya, Nak, sehingga selalu meridhoi setiap langkah yang Janis ambil.

Sebetulnya, ada satu harapan kami untuk Janis jika sudah besar nanti: kemampuan berbahasa yang baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan. Pemahaman kami pun masih kurang mengenai ini, Nak, masih harus banyak belajar. Entah mengapa di zaman seperti sekarang ini, kami masih banyak menjumpai orang-orang di luar sana (bahkan di keluarga besar kita juga masih banyak, Nak, terutama para sesepuh) yang masih kurang cakap dalam berbahasa, terutama ketika menulis (sms atau email), yang seringkali tidak jelas letak tanda koma dan tanda titiknya. Sulit sekali membacanya. Bahkan karena masalah tadi, Mama jadi seringkali salah paham dengan isi pesannya. Duh.

Tak terasa ini sudah tahun ketiga bagi kami menjadi orang tua untukmu, nak Janis. Kami sungguh bahagia. Kami berusaha memantaskan diri di hadapan Allah SWT agar kelak menjadi orang tua yang baik untuk Janis. Insyaallah.

Selamat ulang tahun, Janistra, kesayangan kami selamanya.

Tentang Weaning

Entah kenapa kalau cerita tentang hal yang personal seperti ini, seringkali mandek. Rasanya emosional sekali. Baru menulis sebentar, eh nangis, lanjut menulis lagi, lalu nangis lagi. Begitu saja berulang kali, sampai akhirnya tulisannya hanya tersimpan di draft.

Saya memulai weaning Janis pertengahan bulan Oktober tahun lalu. Saat itu Janis berusia 2 tahun 6 bulan. Saya tidak langsung memutuskan untuk weaning, melainkan menunggu momen yang tepat, termasuk menunggu kesiapan Janis.

Beberapa kali bertemu orang dan keluarga besar, sempat disinggung juga, “Lho sudah dua tahun kok masih ASI?” Alhamdulillah, untung saya keras kepala. Seingat saya, saat itu saya hanya tersenyum, walaupun dalam hati, “Dude, that’s rude!” Padahal ada banyak artikel di luar sana yang menyebutkan manfaat breastfeeding untuk toddler.

Satu minggu sebelum memulai weaning, saya hanya yakin saja Janis bisa. Saya lihat juga dari pola menyusu yang tidak sesering dulu, hanya ketika mau tidur saja. Ketika kami sedang pergi atau main ke luar, Janis juga tidak pernah minta. Bahkan ketika sudah waktunya tidur siang, ia pun bisa langsung tidur begitu saja, tanpa harus menyusu.

Saya dan suami pun tak lupa berulangkali menyebutkan ‘mantra’ ke Janis, “Mbak Janis mulai sekarang belajar minum susu ya, karena ‘neyney’ is for baby…” ‘Neyney’ itu istilahnya Janis untuk minum ASI, hihihi.

Petualangan pun di mulai.

Hari pertama weaning, rasanya luar biasa. Terutama ketika malam hari. Pertama, karena Janis sulit tidur. Kedua, tengah malam atau dini hari, Janis selalu terbangun. Menangis, tendang sana-sini. Fase ini berlangsung selama seminggu. Bagi saya dan suami, masa-masa ini mengingatkan kami ketika Janis masih menjadi newborn baby, yang terbangun terus setiap beberapa jam. (more…)

Tentang Skincare

Ketika suami saya bilang, “Ayo, coba review skincare di blog!” Terus terang, saya merasa nggak yakin. Terlebih pengalaman saya juga masih kurang. Tapi, saya akan cerita tentang petualangan saya dalam merawat kulit wajah.

Ketika menginjak masa puber, wajah saya sangat penuh dengan jerawat. Orang tua saya sampai membawa saya ke beberapa dokter kulit. Dalam beberapa kurun waktu, seingat saya, kami mengunjungi lima dokter. Dari semua perawatan, satu hal yang membuat saya takut sampai sekarang: proses facial yang menyakitkan! Pencet sana, pencet sini. Ampun deh. Belum lagi kalau ada proses tambahan chemical peeling. Muka serasa terbakar. Anehnya, saya tetap mau menjalani proses facial sampai saat sebelum menikah. Setelah itu, berhenti total, hihihi. Lalu bagaimana dengan beragam skincare yang diresepkan dokter? Awalnya cocok, ada  perubahan yang baik di kulit wajah. Lama-kelamaan, kok nggak ada perubahan lagi ya. Dan pada akhirnya saya berhenti memakai semua skincare ini.

Begitu saya hamil, melahirkan dan menyusui, satu-satunya skincare yang saya pakai hanya Sukin, yang aman untuk ibu hamil dan menyusui. Saya pun hanya pakai cleanser, scrub, dan moisturizer. Patut digarisbawahi, saat itu saya belum melakukan double cleansing. Bahkan belum paham pentingnya.

(more…)

Tempat Kedua yang Baru

Ketika saya menulis blog ini, tempat tinggal kami sudah berubah. Akhir Oktober lalu, kami pindah ke daerah Bedok, setelah sebelumnya di daerah Mountbatten.

Mungkin terkesan seperti tiba-tiba, tapi karena kami memang harus pindah. Pemiliknya memutuskan untuk menjual seluruh area apartemen yang kami tinggali, dan kami diberi tenggat waktu untuk pindah sampai bulan Juni 2018. Kecewa? Tentu saja. Karena kami sudah nyaman dan senang tinggal di sana, walau gedungnya sudah tua dan tidak ada lift. Padahal sebelumnya kami berencana untuk memperpanjang sewa. Yang kecewa bukan hanya kami, tapi seluruh penghuni.

(more…)

Teruntuk Papa

Mungkin Papa termasuk orang yang kaku, tidak banyak bicara dengan kami, anak-anaknya. Hanya seperlunya saja, yang dirasa penting. Tapi kami dekat di hati. Entah mengapa sejak kecil saya selalu terhubung dengan beliau. Ketika saya sakit, suara Papa di gagang telfon bisa bisa membuat saya menjadi lebih baik. Seringkali ketika sakit, saya diselimuti dengan sarungnya yang selalu dipakainya setiap sholat, lalu seketika saya merasa lebih baik. Mungkin hanya sugesti. Atau saya hanya kangen dengan beliau karena sering ditinggal dinas ke luar kota.

Bahkan saya punya firasat tentang beliau ketika selesmanya tak kunjung sembuh selama satu bulan lebih. Bahkan sehari sebelum pernikahan saya, beliau sempat mengalami hemoptisis (batuk darah).

Sebulan setelah pernikahan saya, di tahun 2012, beliau jatuh sakit dengan gangguan fungsi organ ginjal. Hati saya hancur melihat beliau berulang kali masuk rumah sakit. Rasanya baru kali itu melihat beliau merintih kesakitan. Saya masih ingat waktu beliau menunjukkan venous catheter di bagian dadanya untuk akses hemodialisa, dan kemudian diganti dengan AV fistula di lengan kirinya. Sampai sekarang, beliau harus menjalankan hemodialisa sebanyak dua kali dalam seminggu.

Di luar itu semua, saya kagum dengan semangatnya untuk kembali sehat. Ikhtiar dan tak lupa berdoa. Walaupun belum kelihatan hasilnya secara medis, tetapi kami percaya akan selalu ada keajaiban dari Yang Maha Kuasa.

(more…)

Ketika Janis Batuk Pilek

Semua berawal dari pertanyaan ‘Janis kalau batuk pilek dikasih apa’ atau ‘Janis dikasih obat apa sama dokter’.

Selama Janis hanya batuk pilek, tanpa ada gejala lain, kami tidak membawanya ke dokter. Cukup dengan perbanyak ASI, berjemur setiap pagi, makan-minum-istirahat yang cukup, dan ‘terapi uap’ di rumah, dengan mangkuk-mangkuk berisi air panas yang sudah ditetesi minyak kayu putih, minyak telon atau breathy drop lainnya, sambil terus diobservasi apakah ada tanda klinis lain yang muncul.

Saya dan suami bukan anti dengan obat-obatan ataupun antibiotik. Tetapi, sebisa mungkin kami menghindari pemakaian obat-obatan maupun antibiotik tersebut. Prinsip ini pun kami terapkan juga ke Janis.

Selain itu, kami juga menyediakan barang-barang esensial yang diperlukan Janis ketika dilanda batuk dan pilek.

(more…)

Isi Tas Perlengkapan Janis

Entah kenapa saya baru kepikiran untuk menulis tentang ini. Kenapa bukan dari dulu ya sewaktu Janis masih bayi? Yang mana barang bawaannya super banyak. Hihihi. Berhubung Janis sudah memasuki usia toddler, jadi perlengkapan yang dibawa sudah makin berkurang. Yay!

Barang bawaan Janis selalu saya bagi ke dalam dua pouch: pouch diaper dan baju ganti; dan pouch alat makan.

Berikut isi pouch diaper:

    1. Baju ganti: dua kaus dan satu celana.
    2. Diaper dua buah.
    3. Handuk kecil.
    4. Changing pad.
    5. Nappy sacks untuk membungkus diaper yang kotor. Saya biasanya beli di Mothercare.
    6. Cotton ball.
    7. Sisir. Kami menggunakan Tangle Teezer untuk dipakai bersama.
    8. Hand sanitizerDi foto kami menggunakan BabyganicsAny sanitizer would be fine, yang penting adalah fungsinya ya.
    9. Cussons baby cologne.
    10. Twinkle Multi-Purpose Baby Balm. Aromanya kurang lebih seperti minyak telon, tapi ini dalam bentuk stik. Sesuai namanya, balm ini multi fungsi, selain untuk menghangatkan, bisa juga untuk mengurangi rash atau luka karena gigitan serangga. Favorit banget!
    11. Four Cow Farm Tea Tree Remedy. Ini pun favorit! Karena berguna ketika dulu Janis kena diaper rash. It helps soothe and protect the skin. Bahkan bisa juga untuk gigitan serangga, scrapes, cuts, and bruises. Any time there is inflamed or itchy skin, this balm is quickly applied!
    12. Spray anti nyamuk dari US BABY Bite Fighters.
    13. Kiehl’s Nurturing Baby Cream. Sebagian isinya sudah saya pindahkan ke tube kecil. Biasanya saya pakaikan di bagian siku dan lututnya Janis. Saya pun sering ikutan pakai, hihihi.
    14. Tisu kering.
    15. Tisu basah.

(more…)