Tentang Janis dan London

Halo! Kami baru saja selesai dari perjalanan (dan penerbangan panjang, tentunya) ke London. Masih terasa juga jetlag-nya sampai sekarang. Oh, dan selama dua minggu di London kemarin, perjalanan kami nggak selamanya lancar.

Malam ke-dua di sana, Janistra muntah, sampai dua kali. Esoknya, muntah lagi, bahkan makanan yang masuk pun keluar semua. Semua terjadi tanpa demam, disertai BAB cair (selama tiga hari berturut-turut). Nafsu makan pun menghilang. Begitu terus sampai seminggu. Selama itu Janis hanya mau ASI.

Parahnya, kami kehabisan jaket untuk Janis, sudah kotor terkena muntah. Kami hanya bawa dua, yang satu tebal, yang satu tipis (hanya dipakai jika bepergian 2-3 jam). Akhirnya mau tak mau, suami harus keluar sendiri membeli beberapa jaket tambahan untuk Janis. Apalagi dengan kondisi Janis yang kurang baik, saya juga nggak mungkin membawa Janis ke luar.

(more…)

Tahun Kedua

Halo, Nak, terima kasih untuk segala surprise-nya di tahun kedua ini. Bagi kami, semuanya sangatlah spesial.

Terima kasih, Nak, sudah mau makan dengan lahap dan mau belajar makan sendiri dengan sendok garpu. Tak perlu pedulikan makanan yang jatuh, Nak, biar saja. Tak perlu khawatir karpet atau lantainya kotor. Kami lebih menghargai usaha nak Janis untuk berusaha makan sendiri. Semangat, Nak!

Terima kasih, Nak, sudah mencoba untuk minum air putih, walau hanya beberapa teguk. Mungkin Janis nggak akan ingat, ketika dulu ditawarkan air putih, langsung menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Bagian terbaiknya sekarang adalah tak ada penolakan lagi. Sungguh, kami salut, Nak.

Terima kasih, Nak, untuk attention span yang mulai panjang. Betah duduk sambil mendengarkan kami membacakan satu-dua buku. Bahkan selalu minta dibacakan buku. Bahagianya…

Terima kasih ya, Nak. Terima kasih sudah baik dan sabar dengan kami, walau seringkali Mama marahi, tanpa Janis mengerti alasannya.

Terima kasih juga, Nak, karena selalu memilih untuk berjalan kaki, dibandingkan digendong atau duduk anteng di stroller, walaupun rutenya jauh bagi Janis. Terima kasih ya, sudah selalu sehat, aktif dan lincah.

(more…)

Melibatkan Janis di Rumah

Menyambung dari tulisan saya sebelumnya, ternyata ada solusi bagi kami dalam menghadapi Janis.

Seperti yang pernah saya bilang, karena di sini kami tidak punya ART, maka segala kegiatan rumah tangga, kami sendiri yang mengerjakan. Dan ketika Janis tidak sabar ingin cepat main dengan kami, dan begitu pula kami yang tidak sabar ingin membereskan rumah, akhirnya kami sampai pada kesepakatan untuk melibatkan Janis di setiap kegiatan pekerjaan rumah.

Perlu digaris bawahi, ini bukan eksploitasi anak ya. Kami ingin Janis mengerti bahwa ada rutinitas lain yang harus kami lakukan, selain bermain dengan Janis dan mengasuhnya.

Ide ini berawal ketika kami melihat Janis mau membantu kami untuk merapikan buku-bukunya yang sudah selesai dibaca. Hanya dengan kalimat, “Hayooo, bukunya kalau sudah selesai dibaca harus dirapikan lagi ke tempatnya,” maka ia segera beranjak membantu merapikan. Sampai sekarang, Janis mau belajar mengembalikan merapikan buku-bukunya sendiri, walau ala kadarnya, yang penting tepat ditaruh di tempatnya semula.

(more…)

Menjadi Ibu Rumah Tangga

Begitu dinyatakan hamil oleh dokter, saya langsung memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Saya berhenti untuk menjadi dokter gigi. Sebagian besar orang menyayangkan hal tersebut. Tapi saya lebih sayang dengan anak yang ada didalam kandungan saya. Saya ingin merawatnya sendiri. Tentunya keputusan ini didukung penuh oleh suami dan orang tua.

Lalu apa yang saya lakukan ketika sudah menjadi ibu rumah tangga?

Saya mengurus dan merawat keluarga kecil saya, suami dan Janis. Saya mengurus pekerjaan rumah, walaupun sudah ada mbak yang membantu beberes. Saya juga memasak walau tidak setiap hari (kecuali untuk Janis). Saya juga tak lupa melakukan groceries shopping setiap bulannya. Saya juga mencuci pakaian.

Apa yang terlewat oleh saya?

Saya terlalu serius dengan ini semua, sampai kadang merasa stres. Saya berharap semuanya berjalan sempurna, tetapi ternyata ada beberapa kendala. Tak jarang saya mengeluh capek, padahal itu sudah resikonya. Sampai di titik ini, saya merasa kurang bersyukur.

(more…)

Tentang Doa

Nak, jadilah anak yang bersyukur dan selalu ingat untuk berbagi. Dengan begitu, Janis bisa lebih menghargai apa yang sudah Janis punya, walau tak seberapa. Bahagia sesederhana itu, Nak.

Nak, jadilah anak yang sehat ya. Karena dengan sehat, Janis bisa lakukan kegiatan apapun, dan kelak dapat membantu sesama, Nak.

Nak, jadilah pribadi yang berakhlak baik. Baik untuk diri sendiri, juga baik untuk orang lain. Akhlak mencakup segalanya, Nak, mulai dari sopan santun, jujur saling menyayangi, sampai memilih perbuatan mana yang baik dan mana yang tidak. Maka kelak Janis akan berada di jalan yang baik pula, Nak.

Nak, pintar itu perlu, tapi bukan yang utama. Maka kami berdoa semoga Janis menjadi anak yang berdaya. Karena tantangan akan selalu ada, Nak.

Semoga segala jalanmu selalu dimudahkan dan diridhoi oleh Allah SWT ya, Nak. Semoga Mama dan Yayah juga selalu dibimbing oleh Allah, agar menjadi orang tua yang baik untuk Janis. Aamiin ya robbal aalamiin.

Selamat ulang tahun, Janistra, kesayangan kami selamanya.