Bermimpi Setinggi Mungkin

Sesuatu yang kita inginkan atau impikan bukan tidak mungkin bisa tercapai. Sama halnya seperti rezeki, yang datang di saat yang tidak terduga. Bahkan di saat kita sudah ‘lupa’ dengan impian kita.

Sore ini, kami berbuka puasa di salah satu rumah makan halal di Katong. Bagi saya, daerah ini punya kenangan tersendiri. Ketika saya sedang hamil trimester terakhir, suami saya mengajak saya ke Singapura, dalam rangka ‘main’ sekaligus menemani beliau bekerja. Kebetulan beliau sudah pindah ke sana sekitar satu bulan.

Selama seminggu saya di sana, kami bolak-balik main ke daerah Katong, yang letaknya tidak terlalu jauh dari penginapan kami di daerah Joo Chiat.

Entah mengapa kami suka daerah Katong. Alasan pertama, tentu saja karena banyak food stall. Yang kedua, daerah ini cantik. Banyak rumah-rumah ala peranakan di sekitar sini. “Kalau tinggal di Singapura, pengennya tinggal di daerah sini…” kata suami saat itu. Tempat tinggal suami saat itu jauh sekali dari kota, tepatnya di Pasir Ris.

Tahun demi tahun berlalu. Kami sudah memiliki Janis, dan suami pun sudah resign dari kantor sebelumnya dan pindah ke Indonesia. Kami pun sudah lupa dengan segala ‘impian’ kami, karena sudah sibuk dengan Janis, yang merupakan jawaban dari doa kami selama dua tahun.

Di luar dugaan, rupanya Allah SWT punya rencana lain untuk kami. Suami kembali mendapat tawaran kerja di Singapura. Kami sekeluarga pun segera pindah, dan ketika itu Janis berusia satu setengah tahun. Percaya atau tidak, kami tinggal di daerah Mountbatten yang letaknya dekat sekali dengan Katong yang sering kami lewati dahulu. Masyaallah.

Nah, kembali lagi ke hari ini, saat menuju ke rumah makan, kami melintasi jalan yang sama ketika saya hamil dulu. “Ingat nggak, dulu kita pernah ingin tinggal di daerah sini? Rupanya kesampaian ya,” kata suami saya. Saya mengiyakan dalam hati.

Masyaallah. Alhamdulillah.

Tulisan ini saya buat tanpa bermaksud riya. Saya ingin meyakinkan bahwa segala sesuatu adalah mungkin, walaupun tidak instan. Semua harus disertai usaha, doa, kesabaran dan keikhlasan. Satu hal yang paling saya ingat adalah keinginan suami untuk traveling. Suami yang ketika masih single punya hobi traveling seringakali berpikir, duh kapan ya bisa traveling lagi. Setelah menikah, rasanya sulit sekali bagi kami untuk pergi berlibur ke sana-sini. Padahal saat itu kami belum dikaruniai anak. Anggapan kami saat itu, ayo kita pergi berlibur sesering mungkin, mumpung belum punya anak. Sayangnya, ada saja kebutuhan untuk ini dan itu, sehingga impian berlibur pun hilang sudah… Allah SWT meridhoi kami untuk pergi traveling di saat kami sudah memiliki Janis. Masyaallah. Rasanya seperti dimudahkan. Sampai sekarang pun kami masih sering terharu kalau ingat ini.

img_2156.jpg

Pesan yang ingin saya sampaikan di sini adalah tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Silakan bermimpi sebanyak-banyaknya dan miliki cita-cita setinggi mungkin. Kalau Allah SWT berkehendak, insyaallah Ia akan selalu menjawab segala doa dan keinginan kita, bahkan di saat kita sudah lupa atau sudah lelah. Jika belum terjawab, jangan terlalu cepat kecewa. Bukan berarti Ia tidak sayang, mungkin memang belum saatnya. Mungkin ia tidak selalu memberi apa yang kita inginkan, tapi insyaallah selalu memberi apa yang kita butuhkan. Tidak ada satupun yang instan, tanpa diiringi usaha penuh, doa, kesabaran dan keikhlasan. Insyaallah Allah SWT memberi segalanya. Satu lagi yang tidak boleh dilupakan: bersyukur.

Apa yang saya pahami memang masih sangat kurang, tapi saya ingin berbagi di sini dengan apa yang sudah kami alami. Sekali lagi, semuanya saya tulis tanpa bermaksud riya. Insyaallah selalu ada hal baik yang menyertai kita ya.

Semoga cerita saya bisa menginspirasi semuanya. Sampai jumpa di cerita berikutnya! ❤️

Tahun Ketiga

Dear Janistra,

Nak, maaf ya, kami seringkali kewalahan dengan energi nak Janis yang sungguh besar. Naik-turun sofa, bahkan sandarannya yang tak seberapa tinggi pun ikut dipanjat. Atau berulang kali meluncur dari slide, kadang juga ‘mendaki’ dari arah sebaliknya. Atau lompat-lompat dan berjoget sembari mendengarkan lagu. Kami pun membuatkan playlist khusus untuk nak Janis, semuanya lagu anak-anak, dan tentunya ada beberapa lagu The Beatles, dan lagu favorit untuk kita berjoget bersama, Nak: The Bare Necessities.

Nak, kami senang sekali ketika Janis makin senang membaca buku. Bahkan ketika berkunjung ke perpustakaan, Janis bisa duduk anteng, sampai kami bisa membacakan lima buku. Walaupun setelah itu jalan ke sana-sini, sembari menyapa siapapun yang ada di sekitar situ. Tema favoritnya Janis masih sama: dinosaurus.

Kami juga senang, Nak, ketika kita menggambar bersama di notebook dengan pensil warna dan krayon, sambil bermain tebak gambar. Yang membuat Mama kagum, Janis masih bisa menebak gambar buatan Mama yang amburadul itu, Nak, hihihi. Berhubung Mama suka kewalahan, Janis juga seringkali minta digambarkan sesuatu oleh Yayah, yang sudah pasti hasilnya bagus ya, Nak!

Mungkin Janis belum tertarik untuk belajar tracing garis, gambar, angka ataupun huruf. Tak apa, Nak, kami tidak pernah memaksa. Tidak pernah ada target supaya Janis bisa ini-itu. Kami percaya semua ada waktunya. Fokus kami hanya bermain, bermain dan bermain.

Nak, mohon maaf ya, kami jarang sekali membelikan mainan atau barang. Nikmati dulu apa yang sudah ada ya, Nak. Kami ingin Janis bisa berkreasi dengan apa yang sudah Janis miliki, sambil pelan-pelan belajar bersyukur..

Nak, terima kasih ya, sudah membantu kami menaruh pakaian ke dalam lemari, walau belum sempurna. Segala niat nak Janis untuk membantu amat sangat kami hargai. Begitu pula ketika Mama hendak memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci, pasti Janis selalu tanya, “Can I help you, Mom?” Kadang kami sampai terharu sendiri, entah darimana Janis bisa belajar ini semua, Nak…

Nak, sebelumnya kami tidak pernah tahu seberapa peka perasaan nak Janis, sampai suatu ketika Mama sedih sampai menangis, Janis segera berlari mengambilkan Mama selembar tisu, dan menepuk-nepuk bahu Mama, bahkan memeluk Mama, seraya berkata, “It’s okay, Mama… It’s okay.” Sesekali kami pernah melihat mata janis ikut berkaca-kaca. Ah, Janis…

Nak, semoga Janis bisa berkelana kesana-kemari, menjelajahi bumi Allah yang luas ini. Hingga suatu saat nanti, Janis bisa bercerita tentang petualangan apa saja yang sudah Janis alami, ada hal menarik apa saja yang sudah Janis lewati. Kelak Janis bisa mengambil manfaat yang baik dari semua perjalanan tadi dan menyebarkan segala yang baik di dunia ini.

Doa kami selalu sama, Nak, semoga Janis selalu menjadi anak yang sehat, selalu bersyukur, berakhlak baik, selalu bahagia, memiliki hati yang besar, dan hidupmu dipenuhi dengan petualangan yang indah ya. Semoga Allah SWT juga berkenan ya, Nak, sehingga selalu meridhoi setiap langkah yang Janis ambil.

Sebetulnya, ada satu harapan kami untuk Janis jika sudah besar nanti: kemampuan berbahasa yang baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan. Pemahaman kami pun masih kurang mengenai ini, Nak, masih harus banyak belajar. Entah mengapa di zaman seperti sekarang ini, kami masih banyak menjumpai orang-orang di luar sana (bahkan di keluarga besar kita juga masih banyak, Nak, terutama para sesepuh) yang masih kurang cakap dalam berbahasa, terutama ketika menulis (sms atau email), yang seringkali tidak jelas letak tanda koma dan tanda titiknya. Sulit sekali membacanya. Bahkan karena masalah tadi, Mama jadi seringkali salah paham dengan isi pesannya. Duh.

Tak terasa ini sudah tahun ketiga bagi kami menjadi orang tua untukmu, nak Janis. Kami sungguh bahagia. Kami berusaha memantaskan diri di hadapan Allah SWT agar kelak menjadi orang tua yang baik untuk Janis. Insyaallah.

Selamat ulang tahun, Janistra, kesayangan kami selamanya.

Tentang Weaning

Entah kenapa kalau cerita tentang hal yang personal seperti ini, seringkali mandek. Rasanya emosional sekali. Baru menulis sebentar, eh nangis, lanjut menulis lagi, lalu nangis lagi. Begitu saja berulang kali, sampai akhirnya tulisannya hanya tersimpan di draft.

Saya memulai weaning Janis pertengahan bulan Oktober tahun lalu. Saat itu Janis berusia 2 tahun 6 bulan. Saya tidak langsung memutuskan untuk weaning, melainkan menunggu momen yang tepat, termasuk menunggu kesiapan Janis.

Beberapa kali bertemu orang dan keluarga besar, sempat disinggung juga, “Lho sudah dua tahun kok masih ASI?” Alhamdulillah, untung saya keras kepala. Seingat saya, saat itu saya hanya tersenyum, walaupun dalam hati, “Dude, that’s rude!” Padahal ada banyak artikel di luar sana yang menyebutkan manfaat breastfeeding untuk toddler.

Satu minggu sebelum memulai weaning, saya hanya yakin saja Janis bisa. Saya lihat juga dari pola menyusu yang tidak sesering dulu, hanya ketika mau tidur saja. Ketika kami sedang pergi atau main ke luar, Janis juga tidak pernah minta. Bahkan ketika sudah waktunya tidur siang, ia pun bisa langsung tidur begitu saja, tanpa harus menyusu.

Saya dan suami pun tak lupa berulangkali menyebutkan ‘mantra’ ke Janis, “Mbak Janis mulai sekarang belajar minum susu ya, karena ‘neyney’ is for baby…” ‘Neyney’ itu istilahnya Janis untuk minum ASI, hihihi.

Petualangan pun di mulai.

Hari pertama weaning, rasanya luar biasa. Terutama ketika malam hari. Pertama, karena Janis sulit tidur. Kedua, tengah malam atau dini hari, Janis selalu terbangun. Menangis, tendang sana-sini. Fase ini berlangsung selama seminggu. Bagi saya dan suami, masa-masa ini mengingatkan kami ketika Janis masih menjadi newborn baby, yang terbangun terus setiap beberapa jam. (more…)

Sekilas Tentang Istanbul

“Kita ke Istanbul, yuk!” ajak suami saat itu. Yang ada di benak saya hanya satu, takut. Maklum, terlalu banyak melihat berita politik mengenai Turki. Terlebih bulan Juni lalu sempat terjadi kudeta di Istanbul.

Istanbul memang salah satu impian suami saya. Semenjak membaca Istanbul: Memories and the City karya Orhan Pamuk, tampaknya beliau langsung jatuh hati. Selain bukunya dibaca sampai tuntas, beliau pun terbayang ingin pergi ke sana. Sampai akhirnya di bulan Desember lalu, tepat di hari ulang tahun saya, “Aku sudah beli tiket ke Istanbul. Kita berangkat bulan depan ya!”

Istanbul di bulan Januari sungguh dingin. Saat kami ke sana, sempat turun salju selama dua hari. Itu pun hanya sedikit sekali dan sudah cukup membuat putri kami bahagia.

Sepanjang perjalanan mengelilingi kota ini, suami saya tidak hentinya berdecak kagum, “Wah, Istanbul ini persis seperti yang ada di bayanganku… Cantik ya!” Berulang kali.

Istanbul juga luar biasa. Mulai dari arsitekturnya yang cantik dan kental dengan sejarah, sistem transportasi yang baik (favorit kami adalah Metro), pemandangannya, ruang terbuka hijau dengan playground, sampai jalan cobblestone dan berbukit ala Eropa kuno. Yang terakhir ini perlu digarisbawahi, karena menjadi tantangan sendiri bagi pengguna stroller seperti kami. (more…)

Tempat Kedua yang Baru

Ketika saya menulis blog ini, tempat tinggal kami sudah berubah. Akhir Oktober lalu, kami pindah ke daerah Bedok, setelah sebelumnya di daerah Mountbatten.

Mungkin terkesan seperti tiba-tiba, tapi karena kami memang harus pindah. Pemiliknya memutuskan untuk menjual seluruh area apartemen yang kami tinggali, dan kami diberi tenggat waktu untuk pindah sampai bulan Juni 2018. Kecewa? Tentu saja. Karena kami sudah nyaman dan senang tinggal di sana, walau gedungnya sudah tua dan tidak ada lift. Padahal sebelumnya kami berencana untuk memperpanjang sewa. Yang kecewa bukan hanya kami, tapi seluruh penghuni.

(more…)

Teruntuk Papa

Mungkin Papa termasuk orang yang kaku, tidak banyak bicara dengan kami, anak-anaknya. Hanya seperlunya saja, yang dirasa penting. Tapi kami dekat di hati. Entah mengapa sejak kecil saya selalu terhubung dengan beliau. Ketika saya sakit, suara Papa di gagang telfon bisa bisa membuat saya menjadi lebih baik. Seringkali ketika sakit, saya diselimuti dengan sarungnya yang selalu dipakainya setiap sholat, lalu seketika saya merasa lebih baik. Mungkin hanya sugesti. Atau saya hanya kangen dengan beliau karena sering ditinggal dinas ke luar kota.

Bahkan saya punya firasat tentang beliau ketika selesmanya tak kunjung sembuh selama satu bulan lebih. Bahkan sehari sebelum pernikahan saya, beliau sempat mengalami hemoptisis (batuk darah).

Sebulan setelah pernikahan saya, di tahun 2012, beliau jatuh sakit dengan gangguan fungsi organ ginjal. Hati saya hancur melihat beliau berulang kali masuk rumah sakit. Rasanya baru kali itu melihat beliau merintih kesakitan. Saya masih ingat waktu beliau menunjukkan venous catheter di bagian dadanya untuk akses hemodialisa, dan kemudian diganti dengan AV fistula di lengan kirinya. Sampai sekarang, beliau harus menjalankan hemodialisa sebanyak dua kali dalam seminggu.

Di luar itu semua, saya kagum dengan semangatnya untuk kembali sehat. Ikhtiar dan tak lupa berdoa. Walaupun belum kelihatan hasilnya secara medis, tetapi kami percaya akan selalu ada keajaiban dari Yang Maha Kuasa.

(more…)

Tentang Midit

Saya dan suami, yang biasa saya panggil ‘Midit’, berkenalan lewat salah satu media sosial, Plurk. Entah masih ada atau tidak ya. Kenalnya pun random, asal klik tombol ‘add to friends’.

‘Obrolan’ pertama kami (saya) hanya sekedar komentar ‘jangan-lupa-beli-bakpia-keju’ waktu ia sedang tugas di luar kota. Itupun tanpa ada arti. Sampai pada akhirnya, kami benar-benar ngobrol via kolom komentar, hahaha.

Dari situ, kami nggak sengaja ketemu. Bukan janjian. Itupun karena saya pasang status, “Sedang di daerah Senayan.” Dan muncul private message, “Yuk, ketemu! Kebetulan kantorku di daerah Senayan juga…” Nah lho!

Kalau boleh saya tambahkan, saat itu saya sama sekali nggak terpikir untuk benar-benar bertemu teman dari dunia maya. Apalagi mencari pasangan hidup. Nope. Pikiran saya saat itu, duh, kira-kira ini orangnya punya niat baik atau buruk ya. Terus terang saja saat itu saya takut. *brb sungkem pak suami*

Yang paling saya ingat, begitu bertemu, kami langsung menuju ke pameran Lego di fX Sudirman. Ini pun terjadi begitu saja. Dan yang paling memalukan, pulangnya saya langsung bilang lapar dan minta makan dulu, hahaha. Oh, tapi sebelum pulang, ia minta foto berdua dulu ketika turun lewat eskalator. Entah mana yang sebetulnya lebih ‘memalukan’ ya. 😒

(more…)