Mengantisipasi Rasa Bosan pada Balita Saat di Pesawat

Maaf ya, mungkin kedengarannya seperti judul skripsi, hihihi…

Berdasarkan pengalaman kami selama terbang bersama Janis, ternyata tidak selamanya ia bisa duduk anteng atau tidur di pesawat. Duduk di pesawat, terlebih penerbangan jarak jauh, akan sangat membosankan. Serial kartun yang ada di pesawat, atau mainan yang diberikan pramugari, juga tidak bertahan lama. Biasanya Janis bisa tenang dalam satu jam, tapi kemudian bosan. Belum lagi, Janis akan berulang kali berkata, “Yuk, jalan!” atau “Mau turun…”

Ada kalanya ia berinteraksi dengan penumpang yang duduk di belakangnya. Senyum-senyum, atau bermain peek-a-boo. Ada kalanya ia mengajak kami bernyanyi, bahkan seringnya bernyanyi sendiri sambil menatap ke luar jendela (kami hampir selalu memilih bangku di dekat jendela) sampai akhirnya berhenti karena capek. Tak jarang juga ia berhasil membuka seat belt-nya sendiri, kemudian berusaha berdiri di kursi dan lompat-lompat. Duh, gawat. Tapi memang anak-anak seusia Janis cenderung aktif secara fisik, bukan?

(more…)

Tentang Skincare

Ketika suami saya bilang, “Ayo, coba review skincare di blog!” Terus terang, saya merasa nggak yakin. Terlebih pengalaman saya juga masih kurang. Tapi, saya akan cerita tentang petualangan saya dalam merawat kulit wajah.

Ketika menginjak masa puber, wajah saya sangat penuh dengan jerawat. Orang tua saya sampai membawa saya ke beberapa dokter kulit. Dalam beberapa kurun waktu, seingat saya, kami mengunjungi lima dokter. Dari semua perawatan, satu hal yang membuat saya takut sampai sekarang: proses facial yang menyakitkan! Pencet sana, pencet sini. Ampun deh. Belum lagi kalau ada proses tambahan chemical peeling. Muka serasa terbakar. Anehnya, saya tetap mau menjalani proses facial sampai saat sebelum menikah. Setelah itu, berhenti total, hihihi. Lalu bagaimana dengan beragam skincare yang diresepkan dokter? Awalnya cocok, ada  perubahan yang baik di kulit wajah. Lama-kelamaan, kok nggak ada perubahan lagi ya. Dan pada akhirnya saya berhenti memakai semua skincare ini.

Begitu saya hamil, melahirkan dan menyusui, satu-satunya skincare yang saya pakai hanya Sukin, yang aman untuk ibu hamil dan menyusui. Saya pun hanya pakai cleanser, scrub, dan moisturizer. Patut digarisbawahi, saat itu saya belum melakukan double cleansing. Bahkan belum paham pentingnya.

(more…)

Tempat Kedua yang Baru

Ketika saya menulis blog ini, tempat tinggal kami sudah berubah. Akhir Oktober lalu, kami pindah ke daerah Bedok, setelah sebelumnya di daerah Mountbatten.

Mungkin terkesan seperti tiba-tiba, tapi karena kami memang harus pindah. Pemiliknya memutuskan untuk menjual seluruh area apartemen yang kami tinggali, dan kami diberi tenggat waktu untuk pindah sampai bulan Juni 2018. Kecewa? Tentu saja. Karena kami sudah nyaman dan senang tinggal di sana, walau gedungnya sudah tua dan tidak ada lift. Padahal sebelumnya kami berencana untuk memperpanjang sewa. Yang kecewa bukan hanya kami, tapi seluruh penghuni.

(more…)

Teruntuk Papa

Mungkin Papa termasuk orang yang kaku, tidak banyak bicara dengan kami, anak-anaknya. Hanya seperlunya saja, yang dirasa penting. Tapi kami dekat di hati. Entah mengapa sejak kecil saya selalu terhubung dengan beliau. Ketika saya sakit, suara Papa di gagang telfon bisa bisa membuat saya menjadi lebih baik. Seringkali ketika sakit, saya diselimuti dengan sarungnya yang selalu dipakainya setiap sholat, lalu seketika saya merasa lebih baik. Mungkin hanya sugesti. Atau saya hanya kangen dengan beliau karena sering ditinggal dinas ke luar kota.

Bahkan saya punya firasat tentang beliau ketika selesmanya tak kunjung sembuh selama satu bulan lebih. Bahkan sehari sebelum pernikahan saya, beliau sempat mengalami hemoptisis (batuk darah).

Sebulan setelah pernikahan saya, di tahun 2012, beliau jatuh sakit dengan gangguan fungsi organ ginjal. Hati saya hancur melihat beliau berulang kali masuk rumah sakit. Rasanya baru kali itu melihat beliau merintih kesakitan. Saya masih ingat waktu beliau menunjukkan venous catheter di bagian dadanya untuk akses hemodialisa, dan kemudian diganti dengan AV fistula di lengan kirinya. Sampai sekarang, beliau harus menjalankan hemodialisa sebanyak dua kali dalam seminggu.

Di luar itu semua, saya kagum dengan semangatnya untuk kembali sehat. Ikhtiar dan tak lupa berdoa. Walaupun belum kelihatan hasilnya secara medis, tetapi kami percaya akan selalu ada keajaiban dari Yang Maha Kuasa.

(more…)

Ketika Janis Batuk Pilek

Semua berawal dari pertanyaan ‘Janis kalau batuk pilek dikasih apa’ atau ‘Janis dikasih obat apa sama dokter’.

Selama Janis hanya batuk pilek, tanpa ada gejala lain, kami tidak membawanya ke dokter. Cukup dengan perbanyak ASI, berjemur setiap pagi, makan-minum-istirahat yang cukup, dan ‘terapi uap’ di rumah, dengan mangkuk-mangkuk berisi air panas yang sudah ditetesi minyak kayu putih, minyak telon atau breathy drop lainnya, sambil terus diobservasi apakah ada tanda klinis lain yang muncul.

Saya dan suami bukan anti dengan obat-obatan ataupun antibiotik. Tetapi, sebisa mungkin kami menghindari pemakaian obat-obatan maupun antibiotik tersebut. Prinsip ini pun kami terapkan juga ke Janis.

Selain itu, kami juga menyediakan barang-barang esensial yang diperlukan Janis ketika dilanda batuk dan pilek.

(more…)

Isi Tas Perlengkapan Janis

Entah kenapa saya baru kepikiran untuk menulis tentang ini. Kenapa bukan dari dulu ya sewaktu Janis masih bayi? Yang mana barang bawaannya super banyak. Hihihi. Berhubung Janis sudah memasuki usia toddler, jadi perlengkapan yang dibawa sudah makin berkurang. Yay!

Barang bawaan Janis selalu saya bagi ke dalam dua pouch: pouch diaper dan baju ganti; dan pouch alat makan.

Berikut isi pouch diaper:

    1. Baju ganti: dua kaus dan satu celana.
    2. Diaper dua buah.
    3. Handuk kecil.
    4. Changing pad.
    5. Nappy sacks untuk membungkus diaper yang kotor. Saya biasanya beli di Mothercare.
    6. Cotton ball.
    7. Sisir. Kami menggunakan Tangle Teezer untuk dipakai bersama.
    8. Hand sanitizerDi foto kami menggunakan BabyganicsAny sanitizer would be fine, yang penting adalah fungsinya ya.
    9. Cussons baby cologne.
    10. Twinkle Multi-Purpose Baby Balm. Aromanya kurang lebih seperti minyak telon, tapi ini dalam bentuk stik. Sesuai namanya, balm ini multi fungsi, selain untuk menghangatkan, bisa juga untuk mengurangi rash atau luka karena gigitan serangga. Favorit banget!
    11. Four Cow Farm Tea Tree Remedy. Ini pun favorit! Karena berguna ketika dulu Janis kena diaper rash. It helps soothe and protect the skin. Bahkan bisa juga untuk gigitan serangga, scrapes, cuts, and bruises. Any time there is inflamed or itchy skin, this balm is quickly applied!
    12. Spray anti nyamuk dari US BABY Bite Fighters.
    13. Kiehl’s Nurturing Baby Cream. Sebagian isinya sudah saya pindahkan ke tube kecil. Biasanya saya pakaikan di bagian siku dan lututnya Janis. Saya pun sering ikutan pakai, hihihi.
    14. Tisu kering.
    15. Tisu basah.

(more…)

Tentang Midit

Saya dan suami, yang biasa saya panggil ‘Midit’, berkenalan lewat salah satu media sosial, Plurk. Entah masih ada atau tidak ya. Kenalnya pun random, asal klik tombol ‘add to friends’.

‘Obrolan’ pertama kami (saya) hanya sekedar komentar ‘jangan-lupa-beli-bakpia-keju’ waktu ia sedang tugas di luar kota. Itupun tanpa ada arti. Sampai pada akhirnya, kami benar-benar ngobrol via kolom komentar, hahaha.

Dari situ, kami nggak sengaja ketemu. Bukan janjian. Itupun karena saya pasang status, “Sedang di daerah Senayan.” Dan muncul private message, “Yuk, ketemu! Kebetulan kantorku di daerah Senayan juga…” Nah lho!

Kalau boleh saya tambahkan, saat itu saya sama sekali nggak terpikir untuk benar-benar bertemu teman dari dunia maya. Apalagi mencari pasangan hidup. Nope. Pikiran saya saat itu, duh, kira-kira ini orangnya punya niat baik atau buruk ya. Terus terang saja saat itu saya takut. *brb sungkem pak suami*

Yang paling saya ingat, begitu bertemu, kami langsung menuju ke pameran Lego di fX Sudirman. Ini pun terjadi begitu saja. Dan yang paling memalukan, pulangnya saya langsung bilang lapar dan minta makan dulu, hahaha. Oh, tapi sebelum pulang, ia minta foto berdua dulu ketika turun lewat eskalator. Entah mana yang sebetulnya lebih ‘memalukan’ ya. 😒

(more…)