Sekilas Tentang Istanbul

“Kita ke Istanbul, yuk!” ajak suami saat itu. Yang ada di benak saya hanya satu, takut. Maklum, terlalu banyak melihat berita politik mengenai Turki. Terlebih bulan Juni lalu sempat terjadi kudeta di Istanbul.

Istanbul memang salah satu impian suami saya. Semenjak membaca Istanbul: Memories and the City karya Orhan Pamuk, tampaknya beliau langsung jatuh hati. Selain bukunya dibaca sampai tuntas, beliau pun terbayang ingin pergi ke sana. Sampai akhirnya di bulan Desember lalu, tepat di hari ulang tahun saya, “Aku sudah beli tiket ke Istanbul. Kita berangkat bulan depan ya!”

Istanbul di bulan Januari sungguh dingin. Saat kami ke sana, sempat turun salju selama dua hari. Itu pun hanya sedikit sekali dan sudah cukup membuat putri kami bahagia.

Sepanjang perjalanan mengelilingi kota ini, suami saya tidak hentinya berdecak kagum, “Wah, Istanbul ini persis seperti yang ada di bayanganku… Cantik ya!” Berulang kali.

Istanbul juga luar biasa. Mulai dari arsitekturnya yang cantik dan kental dengan sejarah, sistem transportasi yang baik (favorit kami adalah Metro), pemandangannya, ruang terbuka hijau dengan playground, sampai jalan cobblestone dan berbukit ala Eropa kuno. Yang terakhir ini perlu digarisbawahi, karena menjadi tantangan sendiri bagi pengguna stroller seperti kami. (more…)

Bijak Berkelana dengan Balita

Berikut ada beberapa tips untuk melakukan perjalanan dengan balita, berdasarkan pengalaman kami berkelana dengan Janis. Semoga bermanfaat ya!

Rencana vs. Realita

Rencana memang penting dan berhubungan sekali dengan waktu. Seringkali jadwal sudah tersusun rapi, tetapi realitanya semuanya kembali ke situasi dan kondisi. Tak jarang, rencana kami ‘bertabrakan’ dengan situasi Janis saat itu. Seperti ketika di Borough Market, London, Janis tiba-tiba muntah, dan mengharuskan kami untuk segera kembali ke hotel dan berisitirahat saja di dalam kamar. Atau saat kami berencana untuk pergi ke Phillip Island, Melbourne, rupanya Janis tidak betah duduk di carseat terlalu lama, sedangkan perjalanannya memakan waktu tiga jam. Akhirnya, kami terpaksa membatalkan rencana ini.

Usahakan sebaik mungkin untuk menyesuaikan diri dengan jadwal si kecil, mulai dari bangun tidur pagi hari sampai kembali tidur lagi di malam hari. Utamakan kebutuhannya, karena sudah pasti akan mempengaruhi kondisinya di perjalanan selanjutnya.

Barang Bawaan

Ketika belum memiliki anak, biasanya kami hanya membawa dua ransel dengan kapasitas 40 liter, untuk bepergian selama 10-14 hari. Begitu Janis lahir, semuanya berubah total, hahaha. Kami membawa (paling banyak) dua koper, ukuran medium dan ukuran kecil, dan tetap dengan ransel dengan ukuran yang lebih kecil, untuk membawa barang esensial-nya Janis berikut cemilan.

Nah, untuk barang keperluan si kecil, seperti diaper, susu UHT, dan cemilan, bawa secukupnya saja, paling tidak cukup untuk tiga sampai empat hari. Menurut saya, lebih baik membeli kebutuhan yang kurang di tempat tujuan, daripada terlalu banyak membawa barang saat di perjalanan.

Penerbangan

Kami mencoba memilih maskapai penerbangan dengan layanan yang baik dan lebih nyaman, terlebih untuk penerbangan jarak jauh. Memang akan mengeluarkan biaya lebih banyak, tapi memberi dampak yang lebih baik untuk semuanya, terutama untuk Janis. Yang tak kalah penting adalah pilih maskapai penerbangan dengan reputasi yang baik.

Stroller vs. Baby Carrier

Untuk di bagian ini, semuanya tergantung kenyamanan dari masing-masing orang tua. Ada yang cukup membawa baby carrier atau stroller saja, tapi ada pula yang membawa keduanya. Sah-sah saja.

Janis pertama kali bepergian saat usianya empat bulan. Saat itu kami berangkat ke Singapura, dalam rangka menjemput suami yang akan pindah ke Jakarta. Ini pertama kalinya Janis merasakan panasnya udara Singapura. Apalagi kami banyak berjalan kaki, dan karena itu pula, Janis cukup saya gendong di baby carrier supaya lebih praktis. Empat hari kemudian, seluruh tubuhnya dipenuhi ruam. Suhu badannya pun meningkat selama beberapa hari, walaupun tidak demam. Ketika kami bawa ke rumah sakit, dokter bilang, mungkin Janis belum bisa beradaptasi dengan cuaca panas, lalu disarankan untuk memakai stroller, supaya ruamnya mereda. Untungnya saat itu kami juga membawa stroller. Tidak sia-sia kami membawa keduanya.

(more…)

Mengantisipasi Rasa Bosan pada Balita Saat di Pesawat

Maaf ya, mungkin kedengarannya seperti judul skripsi, hihihi…

Berdasarkan pengalaman kami selama terbang bersama Janis, ternyata tidak selamanya ia bisa duduk anteng atau tidur di pesawat. Duduk di pesawat, terlebih penerbangan jarak jauh, akan sangat membosankan. Serial kartun yang ada di pesawat, atau mainan yang diberikan pramugari, juga tidak bertahan lama. Biasanya Janis bisa tenang dalam satu jam, tapi kemudian bosan. Belum lagi, Janis akan berulang kali berkata, “Yuk, jalan!” atau “Mau turun…”

Ada kalanya ia berinteraksi dengan penumpang yang duduk di belakangnya. Senyum-senyum, atau bermain peek-a-boo. Ada kalanya ia mengajak kami bernyanyi, bahkan seringnya bernyanyi sendiri sambil menatap ke luar jendela (kami hampir selalu memilih bangku di dekat jendela) sampai akhirnya berhenti karena capek. Tak jarang juga ia berhasil membuka seat belt-nya sendiri, kemudian berusaha berdiri di kursi dan lompat-lompat. Duh, gawat. Tapi memang anak-anak seusia Janis cenderung aktif secara fisik, bukan?

(more…)

Tentang Janis dan London

Halo! Kami baru saja selesai dari perjalanan (dan penerbangan panjang, tentunya) ke London. Masih terasa juga jetlag-nya sampai sekarang. Oh, dan selama dua minggu di London kemarin, perjalanan kami nggak selamanya lancar.

Malam ke-dua di sana, Janistra muntah, sampai dua kali. Esoknya, muntah lagi, bahkan makanan yang masuk pun keluar semua. Semua terjadi tanpa demam, disertai BAB cair (selama tiga hari berturut-turut). Nafsu makan pun menghilang. Begitu terus sampai seminggu. Selama itu Janis hanya mau ASI.

Parahnya, kami kehabisan jaket untuk Janis, sudah kotor terkena muntah. Kami hanya bawa dua, yang satu tebal, yang satu tipis (hanya dipakai jika bepergian 2-3 jam). Akhirnya mau tak mau, suami harus keluar sendiri membeli beberapa jaket tambahan untuk Janis. Apalagi dengan kondisi Janis yang kurang baik, saya juga nggak mungkin membawa Janis ke luar.

(more…)