Halo, 2019!

Sulit bagi saya untuk menulis lagi setelah sekian lama terhenti. Tapi tidak ada salahnya dicoba lagi. Ada serangkaian hal di tahun lalu yang membuat saya menjadi tidak aktif menulis, karena kesibukan lain yang menarik dan cukup emosional.

Janis mulai masuk sekolah.

Di usianya yang saat itu menginjak 3 tahun 3 bulan, kami mendaftarkan Janis untuk mengikuti kelas nursery di Sekolah Indonesia Singapura (SIS), supaya dia bisa bersosialiasi dengan teman-teman sebayanya. Kelasnya sendiri hanya berlangsung selama dua jam. Kemudian, karena satu dan lain hal, program nursery dan TK di sekolah ini terpaksa berhenti, sehingga kami harus pindah ke sekolah lain.

Sejak awal Januari, Janis mulai sekolah di tempat yang baru. Jaraknya cukup dekat dari tempat kami tinggal, sekitar 1,7 km. Waktu belajarnya pun cukup lama, 4 jam, dengan tambahan pelajaran bahasa Mandarin setiap harinya selama 30 menit.

Menyiapkan bekal.

img_8214

Ini juga sesuatu yang baru untuk saya. Begitu Janis masuk sekolah di SIS, kami diwajibkan untuk membawakan bekal (boleh snack atau makanan berat) secukupnya untuk dimakan di kelas, dalam rangka melatih kemandirian (makan dan minum sendiri), tanggung jawab (menghabiskan bekalnya) dan tentu saja bersyukur (dengan apa yang sudah ada. Bahkan bekalnya pun penuh syarat, tidak boleh sesuatu yang manis seperti cokelat atau permen, chips, fast-food. Sebetulnya ada lauk katering yang bisa dibawa untuk bekal Janis, tapi rasanya tidak mungkin. Seringkali ketika kami mau berangkat ke sekolah (di SIS, Janis masuk sekolah siang hari), kateringnya baru datang.

img_8532.jpg

Mau tidak mau, akhirnya saya masak. Harapan saya, dengan memasak maka saya bisa menyesuaikan masakan apa yang menjadi favoritnya Janis, sehingga tidak mubazir. Terlebih Janis termasuk yang selektif dalam hal makanan. Lalu, apakah Janis selalu menghabiskan bekalnya? Enggak. Ada kalanya bekalnya tidak disentuh sama sekali. Sedih sih, tapi setidaknya saya berusaha untuk menyiapkan bekal yang sehat dan fresh setiap hari untuknya (juga untuk suami).

Diaper-free.

Ini adalah cita-cita kami sejak Janis berusia dua tahun. Tapi ya, ternyata semua kembali kepada kesiapan masing-masing anak dan juga orang tuanya. Potty training ini justru dimulai bulan Desember lalu, ketika Janis izin tidak masuk sekolah dikarenakan batuk dan pilek. Prosesnya kurang dari dua minggu. Selama di rumah, Janis selalu memakai panty, Jangan tanya tentang ‘kecelakaan’ karena berkali-kali terjadi, baik siang maupun malan hari. Bahkan kami sampai pernah mengganti seprai dan selimut tengah malam, hihihi. Hikmahnya, selama terjadi ‘kecelakaan’ Janis jadi risih dan merasa harus selalu segera ke toilet. Kemudian, diaper-free pun jadi kenyataan, horeee!

Teman baru.

Ketika Janis mulai masuk sekolah, saya juga punya teman baru, para ibu yang menginspirasi. Makin sering saya berkumpul dengan mereka, semakin banyak saya tahu, bahwa ibu-ibu juga butuh bersosialisasi, bukan hanya sekedar mengurus keluarga dan urusan rumah tangga. Walau hanya sekedar makan bareng di kantin sekolah, tapi semuanya terasa bermakna. Ada kalanya mengeluh tentang pekerjaan rumah yang belum selesai, bingung mau masak apa untuk keluarga, atau sekedar bercerita tentang suka duka merantau dan lainnya. (more…)

Belajar Menghargai

Saya tergelitik untuk menulis tentang ini.

Kelihatannya sepele, tapi ini seringkali dilupakan. Belajar untuk menghargai tentang apa yang menjadi kesukaan orang lain di media sosial, dengan cara tidak meninggalkan komentar yang risih atau sinis atau kurang enak dibaca. Kalau tidak suka, ya biarkan saja, tidak perlu mengotori laman media sosialnya dengan kalimat yang tidak perlu. Bukankah ada opsi unfollow atau mute? Tidak sulit.

Saya sendiri pernah beberapa kali mengalami kejadian serupa. Dulu sekali, saya pernah posting beberapa barang milik Janis (buku, beberapa mainan dan perlengkapan untuk traveling), tentunya dengan harapan apa yang sharing akan berguna juga bagi orang lain. Paling tidak, bisa memberikan inspirasi. Tiba-tiba muncul komentar, “Wiih, endorse ya?” atau “Cieee, blogger nih yeee!” atau “Mevvah bangeeet!” dan semacamnya.

I was like, ‘What’s wrong with my posts?’ I wasn’t trying to impressed someone with all that stuff. Bahkan jauh dari mewah.

Sayangnya, komentar seperti ini justru datang dari orang-orang terdekat. Mungkin maksudnya bercanda ya, tapi saya sendiri merasa tidak nyaman. Kejadian seperti ini bahkan bukan hanya sekali atau dua kali. Jangan menganggap bahwa karena kita dekat dengan seseorang lalu lantas bisa bebas berkomentar tentang apapun dan dengan gaya bahasa sesukanya. HELL NO! Bukankah seharusnya sebagai orang-orang terdekat justru saling support? Atau mungkin saya yang  terlalu sensitif?

Bermimpi Setinggi Mungkin

Sesuatu yang kita inginkan atau impikan bukan tidak mungkin bisa tercapai. Sama halnya seperti rezeki, yang datang di saat yang tidak terduga. Bahkan di saat kita sudah ‘lupa’ dengan impian kita.

Sore ini, kami berbuka puasa di salah satu rumah makan halal di Katong. Bagi saya, daerah ini punya kenangan tersendiri. Ketika saya sedang hamil trimester terakhir, suami saya mengajak saya ke Singapura, dalam rangka ‘main’ sekaligus menemani beliau bekerja. Kebetulan beliau sudah pindah ke sana sekitar satu bulan.

Selama seminggu saya di sana, kami bolak-balik main ke daerah Katong, yang letaknya tidak terlalu jauh dari penginapan kami di daerah Joo Chiat.

Entah mengapa kami suka daerah Katong. Alasan pertama, tentu saja karena banyak food stall. Yang kedua, daerah ini cantik. Banyak rumah-rumah ala peranakan di sekitar sini. “Kalau tinggal di Singapura, pengennya tinggal di daerah sini…” kata suami saat itu. Tempat tinggal suami saat itu jauh sekali dari kota, tepatnya di Pasir Ris.

Tahun demi tahun berlalu. Kami sudah memiliki Janis, dan suami pun sudah resign dari kantor sebelumnya dan pindah ke Indonesia. Kami pun sudah lupa dengan segala ‘impian’ kami, karena sudah sibuk dengan Janis, yang merupakan jawaban dari doa kami selama dua tahun.

Di luar dugaan, rupanya Allah SWT punya rencana lain untuk kami. Suami kembali mendapat tawaran kerja di Singapura. Kami sekeluarga pun segera pindah, dan ketika itu Janis berusia satu setengah tahun. Percaya atau tidak, kami tinggal di daerah Mountbatten yang letaknya dekat sekali dengan Katong yang sering kami lewati dahulu. Masyaallah.

Nah, kembali lagi ke hari ini, saat menuju ke rumah makan, kami melintasi jalan yang sama ketika saya hamil dulu. “Ingat nggak, dulu kita pernah ingin tinggal di daerah sini? Rupanya kesampaian ya,” kata suami saya. Saya mengiyakan dalam hati.

Masyaallah. Alhamdulillah.

Tulisan ini saya buat tanpa bermaksud riya. Saya ingin meyakinkan bahwa segala sesuatu adalah mungkin, walaupun tidak instan. Semua harus disertai usaha, doa, kesabaran dan keikhlasan. Satu hal yang paling saya ingat adalah keinginan suami untuk traveling. Suami yang ketika masih single punya hobi traveling seringakali berpikir, duh kapan ya bisa traveling lagi. Setelah menikah, rasanya sulit sekali bagi kami untuk pergi berlibur ke sana-sini. Padahal saat itu kami belum dikaruniai anak. Anggapan kami saat itu, ayo kita pergi berlibur sesering mungkin, mumpung belum punya anak. Sayangnya, ada saja kebutuhan untuk ini dan itu, sehingga impian berlibur pun hilang sudah… Allah SWT meridhoi kami untuk pergi traveling di saat kami sudah memiliki Janis. Masyaallah. Rasanya seperti dimudahkan. Sampai sekarang pun kami masih sering terharu kalau ingat ini.

img_2156.jpg

Pesan yang ingin saya sampaikan di sini adalah tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Silakan bermimpi sebanyak-banyaknya dan miliki cita-cita setinggi mungkin. Kalau Allah SWT berkehendak, insyaallah Ia akan selalu menjawab segala doa dan keinginan kita, bahkan di saat kita sudah lupa atau sudah lelah. Jika belum terjawab, jangan terlalu cepat kecewa. Bukan berarti Ia tidak sayang, mungkin memang belum saatnya. Mungkin ia tidak selalu memberi apa yang kita inginkan, tapi insyaallah selalu memberi apa yang kita butuhkan. Tidak ada satupun yang instan, tanpa diiringi usaha penuh, doa, kesabaran dan keikhlasan. Insyaallah Allah SWT memberi segalanya. Satu lagi yang tidak boleh dilupakan: bersyukur.

Apa yang saya pahami memang masih sangat kurang, tapi saya ingin berbagi di sini dengan apa yang sudah kami alami. Sekali lagi, semuanya saya tulis tanpa bermaksud riya. Insyaallah selalu ada hal baik yang menyertai kita ya.

Semoga cerita saya bisa menginspirasi semuanya. Sampai jumpa di cerita berikutnya! ❤️

Tentang Skincare

Ketika suami saya bilang, “Ayo, coba review skincare di blog!” Terus terang, saya merasa nggak yakin. Terlebih pengalaman saya juga masih kurang. Tapi, saya akan cerita tentang petualangan saya dalam merawat kulit wajah.

Ketika menginjak masa puber, wajah saya sangat penuh dengan jerawat. Orang tua saya sampai membawa saya ke beberapa dokter kulit. Dalam beberapa kurun waktu, seingat saya, kami mengunjungi lima dokter. Dari semua perawatan, satu hal yang membuat saya takut sampai sekarang: proses facial yang menyakitkan! Pencet sana, pencet sini. Ampun deh. Belum lagi kalau ada proses tambahan chemical peeling. Muka serasa terbakar. Anehnya, saya tetap mau menjalani proses facial sampai saat sebelum menikah. Setelah itu, berhenti total, hihihi. Lalu bagaimana dengan beragam skincare yang diresepkan dokter? Awalnya cocok, ada  perubahan yang baik di kulit wajah. Lama-kelamaan, kok nggak ada perubahan lagi ya. Dan pada akhirnya saya berhenti memakai semua skincare ini.

Begitu saya hamil, melahirkan dan menyusui, satu-satunya skincare yang saya pakai hanya Sukin, yang aman untuk ibu hamil dan menyusui. Saya pun hanya pakai cleanser, scrub, dan moisturizer. Patut digarisbawahi, saat itu saya belum melakukan double cleansing. Bahkan belum paham pentingnya.

(more…)

Tempat Kedua yang Baru

Ketika saya menulis blog ini, tempat tinggal kami sudah berubah. Akhir Oktober lalu, kami pindah ke daerah Bedok, setelah sebelumnya di daerah Mountbatten.

Mungkin terkesan seperti tiba-tiba, tapi karena kami memang harus pindah. Pemiliknya memutuskan untuk menjual seluruh area apartemen yang kami tinggali, dan kami diberi tenggat waktu untuk pindah sampai bulan Juni 2018. Kecewa? Tentu saja. Karena kami sudah nyaman dan senang tinggal di sana, walau gedungnya sudah tua dan tidak ada lift. Padahal sebelumnya kami berencana untuk memperpanjang sewa. Yang kecewa bukan hanya kami, tapi seluruh penghuni.

(more…)

Teruntuk Papa

Mungkin Papa termasuk orang yang kaku, tidak banyak bicara dengan kami, anak-anaknya. Hanya seperlunya saja, yang dirasa penting. Tapi kami dekat di hati. Entah mengapa sejak kecil saya selalu terhubung dengan beliau. Ketika saya sakit, suara Papa di gagang telfon bisa bisa membuat saya menjadi lebih baik. Seringkali ketika sakit, saya diselimuti dengan sarungnya yang selalu dipakainya setiap sholat, lalu seketika saya merasa lebih baik. Mungkin hanya sugesti. Atau saya hanya kangen dengan beliau karena sering ditinggal dinas ke luar kota.

Bahkan saya punya firasat tentang beliau ketika selesmanya tak kunjung sembuh selama satu bulan lebih. Bahkan sehari sebelum pernikahan saya, beliau sempat mengalami hemoptisis (batuk darah).

Sebulan setelah pernikahan saya, di tahun 2012, beliau jatuh sakit dengan gangguan fungsi organ ginjal. Hati saya hancur melihat beliau berulang kali masuk rumah sakit. Rasanya baru kali itu melihat beliau merintih kesakitan. Saya masih ingat waktu beliau menunjukkan venous catheter di bagian dadanya untuk akses hemodialisa, dan kemudian diganti dengan AV fistula di lengan kirinya. Sampai sekarang, beliau harus menjalankan hemodialisa sebanyak dua kali dalam seminggu.

Di luar itu semua, saya kagum dengan semangatnya untuk kembali sehat. Ikhtiar dan tak lupa berdoa. Walaupun belum kelihatan hasilnya secara medis, tetapi kami percaya akan selalu ada keajaiban dari Yang Maha Kuasa.

(more…)