Teruntuk Papa

Mungkin Papa termasuk orang yang kaku, tidak banyak bicara dengan kami, anak-anaknya. Hanya seperlunya saja, yang dirasa penting. Tapi kami dekat di hati. Entah mengapa sejak kecil saya selalu terhubung dengan beliau. Ketika saya sakit, suara Papa di gagang telfon bisa bisa membuat saya menjadi lebih baik. Seringkali ketika sakit, saya diselimuti dengan sarungnya yang selalu dipakainya setiap sholat, lalu seketika saya merasa lebih baik. Mungkin hanya sugesti. Atau saya hanya kangen dengan beliau karena sering ditinggal dinas ke luar kota.

Bahkan saya punya firasat tentang beliau ketika selesmanya tak kunjung sembuh selama satu bulan lebih. Bahkan sehari sebelum pernikahan saya, beliau sempat mengalami hemoptisis (batuk darah).

Sebulan setelah pernikahan saya, di tahun 2012, beliau jatuh sakit dengan gangguan fungsi organ ginjal. Hati saya hancur melihat beliau berulang kali masuk rumah sakit. Rasanya baru kali itu melihat beliau merintih kesakitan. Saya masih ingat waktu beliau menunjukkan venous catheter di bagian dadanya untuk akses hemodialisa, dan kemudian diganti dengan AV fistula di lengan kirinya. Sampai sekarang, beliau harus menjalankan hemodialisa sebanyak dua kali dalam seminggu.

Di luar itu semua, saya kagum dengan semangatnya untuk kembali sehat. Ikhtiar dan tak lupa berdoa. Walaupun belum kelihatan hasilnya secara medis, tetapi kami percaya akan selalu ada keajaiban dari Yang Maha Kuasa.

Saya pun masih ingat waktu kuliah dulu, beliau sedang asyik bercanda dengan Mama, sambil berkata bahwa ingin selalu sehat supaya kelak bisa menimang cucu. Keinginannya sekarang terkabul, bisa main dengan cucu, walaupun dengan kondisi kesehatan yang berbeda. Sekali lagi, Allah Maha Baik.

Saya juga masih ingat, ketika selesai menjalankan terapinya di salah satu rumah sakit di Cina, seketika beliau ingin pergi umroh. Saya sama sekali nggak terbayang, apakah beliau akan sanggup melakukan sa’i sebanyak tujuh putaran. Bahkan kami diam-diam menyiapkan kursi roda untuk beliau, jika merasa tidak kuat. Tuhan memudahkan ibadah beliau, rupanya beliau sanggup menjalankan rangkaian ibadah hari itu, tanpa bantuan kursi roda. Masyaallah. Betul, Allah Maha Baik.

Perjalanan tidak sampai di situ. Beliau masih keluar masuk rumah sakit untuk diopname karena tiba-tiba ada kejadian darurat. Bahkan pernah suatu waktu, kami sekeluarga sudah dalam keadaan pasrah. Allah Maha Baik. Dia tetap mengembalikan beliau kepada kami, keluarganya, sehingga kami bisa terus berkumpul sampai sekarang. Ini yang saya sebut berkah. Mukjizat.

Hampir 5 tahun sudah beliau menjalankan hemodialisa. Kondisinya pun sekarang berbeda, beliau lebih mudah capek. Akan tetapi, beliau masih aktif di kantor, walau telah memasuki masa pensiun. Kata Mama, bekerja itu jadi salah satu penyemangat beliau.

Hari ini tepat 10 bulan kami tinggal di Singapura. Satu-satunya keluarga yang belum pernah mengunjungi kami di sini adalah keluarga saya, lebih tepatnya orang tua saya.

Saya hanya bisa sedih ketika ada yang menanyakan kapan orang tua saya mau berkunjung ke sini. Dan pertanyaan seperti ini bukan hanya tsekali-dua kali. Sebetulnya ini hanya pertanyaan biasa. Tapi jika mengingat kondisi beliau yang demikian, rasanya…

Dulu, sewaktu kami akan pindah, Papa saya selalu bilang, “Kalau kalian belum bisa pulang ke rumah, nggak apa-apa, biar Papa Mama yang main ke sana, sekalian nengok semuanya.” Walau kenyataannya belum terlaksana.

Kemarin, saat Lebaran, Mama bilang bahwa Papa berandai-andai, “Andai aku nggak sakit ya, Ma… Andai aku nggak cuci darah ya, Ma, pasti kita bisa jalan-jalan, bisa nengok anak-anak dan cucu di sana…”

Sampai sekarang, saya masih menangis kalau ingat percakapan ini.

Saya tidak menyalahkan kondisi kesehatan beliau. Saya tidak menyalahkan mereka yang bertanya. Semuanya hanya masalah waktu. 😊

Tak apa, Pa, kita akan selalu dekat walau jauh. Kami selalu sayang, Pa. Yang paling penting bagi kami adalah kesehatan Papa. Insyaallah akan ada hasilnya, hanya masalah waktu. Selalu semangat, selalu berikhtiar, selalu berdoa. Dengan Papa bisa berobat, memilih tempat, menjalani hemodialisa, kami sangat bersyukur, Pa. Biar Allah Maha Bijaksana yang akan memutuskan segalanya ya, Pa.

Jika Allah mengizinkan, maka Papa akan sehat seperti sedia kala. Jika Allah mengizikan, maka Papa Mama akan datang berkunjung. Insyaallah. Doa kami selalu. ❤️

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s