Tentang Midit

Saya dan suami, yang biasa saya panggil ‘Midit’, berkenalan lewat salah satu media sosial, Plurk. Entah masih ada atau tidak ya. Kenalnya pun random, asal klik tombol ‘add to friends’.

‘Obrolan’ pertama kami (saya) hanya sekedar komentar ‘jangan-lupa-beli-bakpia-keju’ waktu ia sedang tugas di luar kota. Itupun tanpa ada arti. Sampai pada akhirnya, kami benar-benar ngobrol via kolom komentar, hahaha.

Dari situ, kami nggak sengaja ketemu. Bukan janjian. Itupun karena saya pasang status, “Sedang di daerah Senayan.” Dan muncul private message, “Yuk, ketemu! Kebetulan kantorku di daerah Senayan juga…” Nah lho!

Kalau boleh saya tambahkan, saat itu saya sama sekali nggak terpikir untuk benar-benar bertemu teman dari dunia maya. Apalagi mencari pasangan hidup. Nope. Pikiran saya saat itu, duh, kira-kira ini orangnya punya niat baik atau buruk ya. Terus terang saja saat itu saya takut. *brb sungkem pak suami*

Yang paling saya ingat, begitu bertemu, kami langsung menuju ke pameran Lego di fX Sudirman. Ini pun terjadi begitu saja. Dan yang paling memalukan, pulangnya saya langsung bilang lapar dan minta makan dulu, hahaha. Oh, tapi sebelum pulang, ia minta foto berdua dulu ketika turun lewat eskalator. Entah mana yang sebetulnya lebih ‘memalukan’ ya. 😒

Berikutnya, kami banyak ngobrol lewat messenger. Kemudian, diajak nonton. Itupun sempat saya tolak, karena menurut apa yang saya lihat di blognya, dia sudah punya pacar. Tentu saja nggak etis kalau saya iya-kan. Kadang saya bersyukur juga punya naluri stalker. Sampai akhirnya ia bilang, “I’ve no longer had one,” barulah saya mau.

Kami masih terus chatting, sampai akhirnya memutuskan untuk pacaran, dan tiga tahun kemudian menikah.

Kalau dulu saat pacaran, suami saya keras kepala dan kurang sabar. Begitu menikah, malah justru sebaliknya.

Apa yang dilihat orang-orang tentang kami, hanya yang baik-baik saja. Padahal di luar itu, kami sering berselisih, walau hanya hal sepele.

Kehidupan setelah menikah ternyata bukan perkara mudah. Karena semua watak kami muncul satu-persatu di situ. Kadang saya nggak tahan, kadang suami pun nggak tahan. Mundur jelas bukan solusinya, karena kami sudah memilih satu sama lain.

Ujian yang paling besar adalah kesabaran. Tapi rupanya, disitulah letak berkahnya.

Orang yang paling bikin saya sebal, justru orang yang paling saya kasihi: suami saya.

Kami makin sayang satu sama lain. Kami pun saling rindu, walaupun suami hanya pergi ke kantor. Mungkin kedengarannya berlebihan. Tetapi begitulah kenyataannya.

Sampai sekarang sudah ada Janis pun, semua nggak berubah. Kecuali berat badan dan porsi makan. No, I’m not joking at all. Ini super serius. Hanya saja cara saya menjelaskannya terlalu lawak.

Entah kenapa, waktu kami lebih banyak dihabiskan di meja makan dan segala tempat makan di luar. Semuanya terasa lebih bermakna ketika kami duduk bersama di meja makan, bukan di sofa, bukan di kamar tidur. Tak jarang diskusi berlangsung di meja makan.

Saya nggak pernah bilang kami berjodoh. Tapi harapan kami adalah semoga kami benar berjodoh.

Saya nggak pernah bilang kami adalah pasangan yang baik. Tapi kami berharap menjadi yang baik. Baik untuk kami, untuk keluarga kami, dan terutama baik untuk Janis.

Terima kasih atas segalanya ya, Midit. Semoga Midit jadi pemimpin yang semakin hari semakin baik untuk keluarga. Semoga berkah-Nya untuk Midit tidak akan pernah putus, baik di dunia maupun akhirat. Selalu bersyukur, bersyukur dan bersyukur.

Selamat ulang tahun, Midit, Yayahnya Janis, kesayangan kami.  ❤️

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s