Belajar dari Janis

Pernah tidak, marah atau kesal dengan anak, ketika kita sedang sibuk berkutat di dapur atau sedang beberes rumah?

Saya beberapa kali begitu dengan Janis. Lebih tepatnya, sering.

Saya kesal ketika rumah sedang dibersihkan, lalu semua mainannya ia taruh di semua sudut rumah. Atau ketika sedang menyapu, debu kotornya ia injak-injak, sehingga jadi menyebar.

Saya kesal ketika sedang mencuci piring, ia merengek dan tak sabar minta digendong, padahal tangan saya masih penuh busa sabun.

Saya kesal ketika saya pergi mandi, ia menangis kecarian, padahal sebelumnya saya sudah pamit, dan pintu kamar mandi dalam keadaan terbuka. Bahkan ketika saya ingin rebahan sebentar saja, ia pun mencari cara untuk mengajak saya beranjak.

Bagi saya, tinggal diam di rumah jauh lebih melelahkan, dibandingkan harus pergi main ke taman atau perpustakaan. Karena ada saja yang harus dikerjakan di rumah, selain mengasuh Janis tentunya. Di usianya yang 22 bulan ini, energinya luar biasa. Bicara non-stop (dalam bahasa yang ia pahami sendiri), jalan sana-sini, naik-turun sofa, bahkan lari-lari di dalam rumah.

Bahkan ada kalanya saya merasa merdeka sekali ketika Janis tidur dan istirahat. Begitu saja berulang kali. Lalu apa yang saya lakukan? Duduk di sofa, sambil minum teh, kemudian mengingat hectic sebelumnya dan menghela nafas panjang, sampai kadang senyum-senyum sendiri. Atau kembali melanjutkan pekerjaan rumah yang belum selesai.

Suatu ketika, saya pernah kelepasan membentak Janis. Wajahnya pias seketika, ia berlari keluar kamar, mengintip dari balik pintu, dan disitu saya lihat ia berusaha menahan tangis. Saya tidak berusaha mengejarnya ataupun memanggilnya, karena masih dalam keadaan emosi. Saya diamkan Janis sekitar 10-15 menit. Tahu apa yang dilakukannya? Ia kembali mendekati saya, dan memanggil, “Mama, Mama…” berulang kali. Diciumnya pipi saya berulang kali. Karena masih tidak ada respon dari saya, barulah ia menangis sejadi-jadinya.

Ketika saya memeluknya, ia balik memeluk saya sekencang mungkin. Saya bisa merasakan detak jantungnya yang perlahan kembali tenang. Senyumnya juga mulai merekah. Ia kembali ceriwis lagi, sembari menyodorkan saya sebuah buku untuk dibaca bersama. Berikutnya, gantian saya yang menangis… Ya Tuhan, I did stupid things! 

Mengapa malah Janis yang mengajarkan saya untuk belajar tulus, bukan sebaliknya? Saya pun merasa malu dan kecewa, karena merasa kurang tulus terhadap Janis.

Saya ingat, saya pernah beberapa kali mengeluh capek ke Janis. Hal yang seharusnya tidak saya lakukan. Padahal ia hanya ingin ditemani dan diajak berinteraksi.

Saya ingat, betapa sabarnya Janis, ketika harus menunggu saya menyelesaikan cucian panci dan alat masak lainnya, yang sudah menumpuk sejak pagi. Atau ketika sedang memasak untuk menu makan siangnya. Ia tetap sabar menunggu saya, dan tepat berada di samping saya sambil membawa salah satu bukunya. Ketika saya sedang membersihkan karpet, ia juga tetap sabar menunggu saya sampai selesai.

Janis yang mengajarkan saya untuk belajar sabar, bukan malah sebaliknya…

Saya pun ingat dengan kata-kata suami beberapa hari lalu. Janis masih terlalu kecil untuk memahami apa yang kita katakan. “Apalagi kalau Mama marahi… Seberapa besar Mama marah, ia belum ngerti, bahkan mungkin nggak paham juga kenapa Mama marah. Yang Janis tangkap hanya intonasinya Mama yang keras.”

“Kadang aku juga suka kesal dengan Janis… Tapi aku berusaha untuk nggak membentak atau marah. Kalau sekali-dua kali nggak bisa dibilangi, barulah aku ambil Janis dari posisi dia berada. Gendong saja, Ma…”

“Nanti kalau sudah makin besar, pelan-pelan bisa dikasih tahu, Ma. Sabar ya…”

Menyesal? Ya, tentu saja. Kadang kalau tengah malam terbangun, saya suka menangisi Janis. Bisa nggak ya, saya jadi orang tua yang baik buat Janis? But there’s no such thing as perfect parent. Semua belajar, termasuk saya. Kadang memang harus jatuh dulu, untuk menjadi yang lebih baik.

Komentar-komentar seperti, “Wah, hebat! Ibu teladan ini…” atau “Kamu telaten banget, Lintang”, malah membuat saya malu dan merasa bersalah.

Saya sangatlah jauh dari itu. Mungkin semuanya karena kuasa Yang Di Atas sehingga segala kekurangan saya tidak diperlihatkan ke orang lain ya. Lalu bukankah dengan adanya tulisan ini, jadi kelihatan kurangnya? Betul, tapi saya nggak malu untuk mengakuinya. Inilah saya apa adanya.

Segala buku parenting yang saya baca sangat bagus. Tapi pada kenyataannya sulit sekali untuk dilakukan. Ada beberapa poin yang bisa diterapkan, ada juga yang berseberangan. Semuanya kembali ke kondisi anak dan diri kita sendiri sebagai orang tua. Seperti yang suami saya bilang, “Nggak perlu lihat orang lain, Ma, just be yourself… Kita yang tahu kondisi anak kita. Semua ada porsinya masing-masing.”

Semoga segala tekad dan usaha saya menjadi yang terbaik untuk Janis terwujud ya.

One thought on “Belajar dari Janis

  1. Pingback: Melibatkan Janis di Rumah – Cerita Mama Janis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s