Menjadi Ibu Rumah Tangga

Begitu dinyatakan hamil oleh dokter, saya langsung memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Saya berhenti untuk menjadi dokter gigi. Sebagian besar orang menyayangkan hal tersebut. Tapi saya lebih sayang dengan anak yang ada didalam kandungan saya. Saya ingin merawatnya sendiri. Tentunya keputusan ini didukung penuh oleh suami dan orang tua.

Lalu apa yang saya lakukan ketika sudah menjadi ibu rumah tangga?

Saya mengurus dan merawat keluarga kecil saya, suami dan Janis. Saya mengurus pekerjaan rumah, walaupun sudah ada mbak yang membantu beberes. Saya juga memasak walau tidak setiap hari (kecuali untuk Janis). Saya juga tak lupa melakukan groceries shopping setiap bulannya. Saya juga mencuci pakaian.

Apa yang terlewat oleh saya?

Saya terlalu serius dengan ini semua, sampai kadang merasa stres. Saya berharap semuanya berjalan sempurna, tetapi ternyata ada beberapa kendala. Tak jarang saya mengeluh capek, padahal itu sudah resikonya. Sampai di titik ini, saya merasa kurang bersyukur.

Saya masih suka ngambek dengan suami, kalau apa yang dilakukannya (dalam membantu mengurus Janis dan rumah) tidak sesuai dengan apa yang biasa saya lakukan. Padahal suami saya adalah orang nomor satu yang senantiasa mendukung, menemani dan membantu saya dalam keadaan apapun.

Saya masih suka kesal kalau Janis tidak mau makan. Padahal di luar itu, ia sudah bolak-balik minum ASI dan ngemil, sehingga mungkin sudah cukup kenyang. Saya pun lupa kalau kebutuhannya bukan hanya ASI-makan-tidur, tetapi juga ingin selalu ditemani dan diajak bermain.

Saya seringkali terlalu ambil pusing dengan omongan orang-orang.

Saya pun kadang lupa, bahwa ada banyak dukungan dari keluarga besar kami.

Saya masih jauh dari sempurna dan masih kurang bersyukur…

Saya tidak berpikir bahwa hidup saya lebih sulit, karena ada banyak berkah yang harus lebih saya syukuri. Inilah pilihan saya, menjadi ibu rumah tangga. Inilah keinginan saya, walau kadang terasa sulit. Mimpi yang besar memang butuh pengorbanan, kan? Semuanya patut diperjuangkan.

Saya ingin menjadi istri yang baik untuk suami saya. Saya ingin menjadi ibu dan contoh yang baik untuk putri saya. Saya juga ingin menjadi yang baik untuk kedua orang tua dan adik-adik kami. Maka dari itu, saya harus belajar lebih banyak lagi.

Happy wife means happy family. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s