Tentang Kapan

“Kapan lulus?”

“Kapan pacarnya mau dikenalin?”

“Kapan mau nikah?”

“Kapan mau punya anak?”

“Kapan mau nambah anak?”

Pertanyaan terakhir yang patut saya garis bawahi.

.

.

Sebelumnya, mohon baca dulu riwayat saya (kami) ya.

Saya bertemu dengan suami saya pada akhir Desember 2008, kemudian menikah pada bulan Oktober 2012. Kemudian saya positif dinyatakan hamil pada pertengahan tahun 2015, sampai akhirnya melahirkan Janis di Maret 2016. Tentunya semua proses tersebut tidaklah mudah.

Sebulan setelah kami menikah, Ayah saya jatuh sakit, dan harus menjalani hemodialisa sampai sekarang. Satu yang saya tahu sejak dulu, cita-cita beliau yaitu ingin berumur panjang dan diberi sehat, agar bisa menimang cucu.

Rasa sedih kami semakin berlipat ganda, manakala sahabat-sahabat kami yang baru saja menikah, dengan segera diberi kepercayaan untuk memiliki buah hati. Kami pun turut gembira dengan kabar itu, tapi di sisi lain kami pun iri.

Belum lagi pertanyaan-pertanyaan ‘kapan’ dari orang-orang di sekitar kami. Duh, rasanya ingin tinggal di dalam kamar saja terus-menerus.

Percaya atau tidak, hampir setiap malam, saya menangis. Mengeluhkan tentang ini semua di depan suami. “Punya anak itu bukan seperti perlombaan. Bukan siapa yang harus duluan. Anak itu anugrah. Kita belum diberi saja sama Allah, belum amanah. Sabar ya, nanti ada waktunya.” Itu yang selalu dibilang suami saya.

Rasa sedih ini seringkali berubah-ubah. Kadang kesal, kadang marah. Begitu terus. Entah bagaimana ceritanya saya pasrah. Ya, kami pasrah dengan semuanya. Kami jalani dengan ikhlas apa adanya. Rupanya, pada titik inilah doa kami terkabul.

Saya pikir cobaan berhenti di sini. Rupanya belum.



“Hamilnya kok kecil ya, perutnya nggak kelihatan.” 

Apa ya harus terlihat? Sedangkan saat itu saya baru masuk awal trimester kedua. Padahal setiap kali kontrol, berat janin saya selalu bertambah. Rasanya tak perlu juga saya jelaskan pada mereka.

“Namanya baru punya anak pertama pasti nanti bego. Nggak bisa ngasuh, mandiin, blablabla…”

(Betul, beliau pakai kata ‘bego’)

Kalau saat itu saya bisa koreksi kalimatnya, saya akan bilang, TIDAK ADA SEORANG PUN yang bodoh dari menjadi ibu (baru) dari seorang anak. Semuanya alamiah. Naluri seorang ibu. Sayangnya, saat kalimat tersebut terlontar, saya hanya diam sambil menahan air mata supaya tidak keluar.

Melahirkan itu sakit sekali lho! Besok deh ngerasain sendiri…”

Semua ibu-ibu yang sedang hamil, sudah pasti ingin disupport, diberi kalimat yang positif, bukan ditakut-takuti seperti ini. Tolong ya, yang seperti ini jangan ditiru…

Begitu Janis lahir, makin banyak tantangannya. ASI saya baru keluar setelah 4 hari pasca melahirkan. Lalu, sebulan pertama adalah masa paling sulit bagi kami, karena belum bisa mengatur pola tidur. Dalam waktu empat bulan pertama, saya hampir selalu telat makan (seringnya melewatkan sarapan), karena Janis sulit sekali ditinggal di atas tempat tidur sendirian. Bahkan ada kalanya tidak bisa lepas menyusu. Mungkin ini hal yang umum ya bagi orang tua baru.

Oh iya, saat itu saya dan suami masih tinggal terpisah (karena bekerja di luar negeri), sejak kehamilan saya memasuki trimester ketiga, sampai Janis berusia 5 bulan. Jadi kami bertemu paling cepat tiga minggu atau sebulan sekali.

Ketika Janis masuk tahap MPASI, tantangannya semakin besar. Seperti yang sudah saya ceritakan di post sebelumnya. Semuanya tidaklah mudah.

Di sini lah mulai muncul pertanyaan ‘kapan punya anak lagi’.

Ketika Janis masuk usia satu tahun, ia masih belum bisa berjalan sendiri, masih dalam tahap titah. Janis belum juga tumbuh giginya satupun, walaupun sekarang saya sudah melihat ada empat calon gigi yang akan tumbuh. Berat badan Janis pun biasa saja, bahkan termasuk yang mungil, jika dibandingkan dengan anak seusianya.

Tentu saja ada banyak komentar negatif. Tapi kami, sebagai orang tuanya, selalu berusaha memberikan yang terbaik. Dari sejak Janis lahir, kami mengasuh Janis sendiri, tanpa bantuan orang lain. Itu sudah menjadi tekad dan kewajiban kami. Kami pun terus belajar untuk itu. Kami ingin menjadi yang terbaik  bagi Janis.

Apakah berat? Bohong kalau saya bilang tidak. Tapi ini yang kami inginkan sejak dulu. Doa kami telah dikabulkan. Apa iya lantas disia-siakan?

.

.

“Jadi, kapan punya anak lagi?” 

Tidak ada yang salah dengan memiliki atau berkeinginan memiliki anak lebih dari satu. Justru pertanyaan ‘kapan’ itulah yang terasa mengganggu. Bagi sebagian orang, pertanyaan tentang ‘kapan punya anak lagi’ adalah hal sepele atau hanya sekadar guyonan. Tapi mohon maaf, bagi kami pertanyaan semacam ini kurang etis, terlepas dari ada keinginan untuk menambah anak atau tidak. Sebelum bertanya, mohon pikirkan perasaan pasangan suami-istri, bagaimana mereka melewati masa-masa mendapatkan buah hati, atau bagaimana mereka berjuang merawat dan membesarkan buah hatinya, yang saya rasa tidaklah mudah. Karena memiliki anak itu adalah salah satu komitmen dengan Tuhan, bukan hal sepele.

Dari seluruh pertanyaan tentang ‘kapan’ ini, pada akhirnya juga membawa saya kepada pertanyaan selanjutnya, “Kapan ya saya bisa sabar menghadapi pertanyaan ‘kapan’?”

One thought on “Tentang Kapan

  1. Mba lin…kapaannn?mengganggu sekali memang,itu yg lg gw rasain karena sesungguhnya,komitmen dengan TUHAN,bukan hal yg sepele (itu yg harus digaris bawahi)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s