Tentang MPASI

Putri kami, Janistra (9 bulan), sudah memasuki tahap pemberian MPASI sejak menginjak usia 6 bulan. Tapi, sampai sekarang belum pintar makan. Bahkan hampir tak pernah membuka mulut.

Sebagai ibu, rasanya wajar kalau saya khawatir. Khawatir kalau nanti Janis kurang asupan, khawatir berat badannya tidak bertambah, atau mungkin malah turun, dan sebagainya.
Saya pun merasa takut ketika tiba waktunya Janis untuk kontrol (vaksin) ke dokter spesialis anak. Bagaimana kalau ada berbagai pertanyaan dari dokter tentang pola makannya Janis. Bagaimana jika dokter menanyakan soal berat badan Janis.

Bahkan saya merasa iri dengan anak-anak seusia Janis yang sudah bisa makan dengan lahapnya, menghabiskan berpuluh-puluh suap. Salah satu keponakan kami pun yang usianya terpaut dua bulan lebih muda, sudah pintar makan.

Lebih parahnya lagi, saya tidak berani menyuapi Janis di depan keluarga suami saya. Takut dikomentari macam-macam. Padahal itu hanya pikiran buruk saya.

Saya hampir selalu menangisi Janis karena ini.

Saya merasa kecil hati.

.

.

.

Sampai akhirnya, ada banyak orang yang menguatkan saya. Bahwa setiap anak itu berbeda. Setiap anak itu unik.

Ada yang baru bisa menerima makanan ketika usianya satu tahun. Ada yang baru bisa menerima daging sapi dan ikan ketika usianya dua tahun. Ada yang masih mengkonsumsi bubur beras saring, padahal usianya sudah 1,5 tahun. Dan banyak lainnya.

Suami lah yang selalu mengingatkan saya untuk bersyukur, bahwa dari semua masalah ini, ASI saya keluar lancar. Janis pun masih minum ASI dengan lancar. Karena tidak semua orang punya kondisi yang sama. Bahwa Janis juga tidak perlu mengkonsumsi tambahan zat besi (berupa cairan). Bahwa Janis tetap ceria di setiap harinya. Bahwa ada banyak hal baru yang dicapai Janis setiap harinya.

“Jangan khawatir. Akan ada masanya ketika nanti Janis benar-benar merasa butuh makan.”

Sembari menunggu masa-masa itu, saya selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik. Saya masih selalu menyiapkan sendiri makanan untuk Janis setiap harinya, dengan menerapkan pola ‘tunggu dua hari’. Dengan bantuan suami, kami catat bagaimana reaksinya ketika menerima makanan tersebut. Bahkan, satu-dua suapan yang bisa masuk ke mulut Janis, sudah merupakan berkah tersendiri bagi saya.

Saya juga menjaga asupan makanan untuk diri saya sendiri, yang nantinya akan dibagi untuk Janis lewat ASI.

Saya belajar bersabar menunggu sampai waktunya tiba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s